Minggu, 23 Oktober 2016
Minggu, 02 Oktober 2016
Jumat, 30 September 2016
Memulai Sesuatu
Male involvement; memulai Hal baru
Pertemuan dengan pendekatan Male Involvement pada September 2014 adalah sebuah pertentangan yang tidak bisa kuhindari.
Lahir sebagai anak lelaki tertua dan menjadi kepala marga merupakan tantangan terbesar saya, karena saya masih takut untuk menunjukan sisi lain dari kehidupan saya sesuai nilai-nilai pelibatan laki-laki.
Sejak kecil diajarkan untuk menjadi laki-laki yang tidak cengeng dan harus menjadi lengan yang kuat sebagai tempat bergantungnya saudara-saudara perempuan dan masyarakat adat di komunitas saya Ad Ohoivit Mel Ohoiru membuat penerapan nilai-nilai kelakian ortodox yang harus kuat, tidak menangis, bertanggung jawab dan pemimpin mewarnai kehidupan saya.
Male involvement membongkar gunung batu keistimewaan saya yang terbangun oleh konstruksi sosial dan budaya suku saya;
Membantu isteri menyuci
Membantu isteri mengurusi anak waktu BAB
Menyuapin anak
Menjemput anak sekolah
Beresin rumah
Adalah hal-hal yang sulit untuk di kerjakan tatkala hidup ditengah-tangah keluarga besar karena konstruksi sosial; kecintaan saya kepada isteri membuat saya untuk tidak ingin membangun konflik antara saudara-saudara perempuan saya atau keluarga besar Marga Lobwaer bersama tawun rennya dengan isteri karena pekerjaan domestik.
Membiarkan isteri bergelut sendiri dengan pekerjaan domistik untuk membenarkan konstruksi sosial adalah salah besar namun di sisi lain inilah sona aman saya yang melegalkan pembenaran diri karena pendidikan masa lalu.
BERAT MEMANG.
Saat pertama mempraktekan male involvement ada protes dari keluargaku yang lain karena tatanan yang sudah terbangun turun temurun, namun di sinilah perubahan dimulai.
Pertemuan di tahun 2014 di Grand Cokro Jogjakarta bersama rekan-rekan dari Aliansi Baru, Fiesta dan Rifka Annisa selama pelatihan male involvement dan kepercayaan yang diberikan dan diperjuangkan oleh Mas M. Yusuf adalah embrio dari sebuah kesadaran perubahan diri.
Menjadi laki-laki baru merupakan keberanian untuk keluar dari lingkaran konstruksi sosial yang selama ini memberikan keistimewaan sebagai laki-laki dan juga perilaku hegemoni.
Membantu isteri melakukan pekerjaan domistik walau itu hal yang kecil, mendatangkan kebahagiaan tersendiri dan mulai membicarakan kesetaraan seksualitas suami isteri merupakan pengalaman baru yang membuat keintiman dan keberhargaan itu menjadi indah sebagai kekuatan kehidupan suami isteri.
Belajar untuk menggunakan kata TOLONG, TERIMA KASIH dan MAAF walau kaku diawalnya karena kehidupan selama ini sebagai kepala marga yang harus dilayani, hanya memerintah jika menginginkan sesuatu dan selalu dianggap benar adalah tabu menggunakan 3 kata diatas namun dari sinilah langkah baru itu dimulai sebagai seorang ayah.
Pengalaman berharga ini, membuatku untuk memberkati orang lain sehingga dalam keseharian berusaha menterjemahkannya dalam program.
Menjadi sesuatu yang luar biasa dalam hidup tatkala bisa mengadopsi dan mengadaptasi dalam nilai perubahan religius, sebagai bagian dari tanggung jawab pastoral.
Pengalaman indah saat memadukan konsep male involvement dengan kebenaran Alkitab menjadi dorongan kuat untuk mengembalikan hati bapak-bapak kepada anak-anak, dan mendorong laki-laki hidup sebagai suami yang mengasihi isteri sebagai teman pewaris kasih karunia. Perpaduan ini membuka mata laki-laki bahwa sebenarnya pelibatan laki-laki yang memiliki konsep kesetaraan gender menjadi solusi dalam persoalan kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak.
Pertemuan dengan pendekatan Male Involvement pada September 2014 adalah sebuah pertentangan yang tidak bisa kuhindari.
Lahir sebagai anak lelaki tertua dan menjadi kepala marga merupakan tantangan terbesar saya, karena saya masih takut untuk menunjukan sisi lain dari kehidupan saya sesuai nilai-nilai pelibatan laki-laki.
Sejak kecil diajarkan untuk menjadi laki-laki yang tidak cengeng dan harus menjadi lengan yang kuat sebagai tempat bergantungnya saudara-saudara perempuan dan masyarakat adat di komunitas saya Ad Ohoivit Mel Ohoiru membuat penerapan nilai-nilai kelakian ortodox yang harus kuat, tidak menangis, bertanggung jawab dan pemimpin mewarnai kehidupan saya.
Male involvement membongkar gunung batu keistimewaan saya yang terbangun oleh konstruksi sosial dan budaya suku saya;
Membantu isteri menyuci
Membantu isteri mengurusi anak waktu BAB
Menyuapin anak
Menjemput anak sekolah
Beresin rumah
Adalah hal-hal yang sulit untuk di kerjakan tatkala hidup ditengah-tangah keluarga besar karena konstruksi sosial; kecintaan saya kepada isteri membuat saya untuk tidak ingin membangun konflik antara saudara-saudara perempuan saya atau keluarga besar Marga Lobwaer bersama tawun rennya dengan isteri karena pekerjaan domestik.
Membiarkan isteri bergelut sendiri dengan pekerjaan domistik untuk membenarkan konstruksi sosial adalah salah besar namun di sisi lain inilah sona aman saya yang melegalkan pembenaran diri karena pendidikan masa lalu.
BERAT MEMANG.
Saat pertama mempraktekan male involvement ada protes dari keluargaku yang lain karena tatanan yang sudah terbangun turun temurun, namun di sinilah perubahan dimulai.
Pertemuan di tahun 2014 di Grand Cokro Jogjakarta bersama rekan-rekan dari Aliansi Baru, Fiesta dan Rifka Annisa selama pelatihan male involvement dan kepercayaan yang diberikan dan diperjuangkan oleh Mas M. Yusuf adalah embrio dari sebuah kesadaran perubahan diri.
Menjadi laki-laki baru merupakan keberanian untuk keluar dari lingkaran konstruksi sosial yang selama ini memberikan keistimewaan sebagai laki-laki dan juga perilaku hegemoni.
Membantu isteri melakukan pekerjaan domistik walau itu hal yang kecil, mendatangkan kebahagiaan tersendiri dan mulai membicarakan kesetaraan seksualitas suami isteri merupakan pengalaman baru yang membuat keintiman dan keberhargaan itu menjadi indah sebagai kekuatan kehidupan suami isteri.
Belajar untuk menggunakan kata TOLONG, TERIMA KASIH dan MAAF walau kaku diawalnya karena kehidupan selama ini sebagai kepala marga yang harus dilayani, hanya memerintah jika menginginkan sesuatu dan selalu dianggap benar adalah tabu menggunakan 3 kata diatas namun dari sinilah langkah baru itu dimulai sebagai seorang ayah.
Pengalaman berharga ini, membuatku untuk memberkati orang lain sehingga dalam keseharian berusaha menterjemahkannya dalam program.
Menjadi sesuatu yang luar biasa dalam hidup tatkala bisa mengadopsi dan mengadaptasi dalam nilai perubahan religius, sebagai bagian dari tanggung jawab pastoral.
Pengalaman indah saat memadukan konsep male involvement dengan kebenaran Alkitab menjadi dorongan kuat untuk mengembalikan hati bapak-bapak kepada anak-anak, dan mendorong laki-laki hidup sebagai suami yang mengasihi isteri sebagai teman pewaris kasih karunia. Perpaduan ini membuka mata laki-laki bahwa sebenarnya pelibatan laki-laki yang memiliki konsep kesetaraan gender menjadi solusi dalam persoalan kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak.
Kamis, 22 September 2016
Kamis, 02 Juni 2016
Minggu, 08 Mei 2016
DOA; Hadir untuk PEMULIHAN NEGERI
I TIMUTIUS 2 : 1 - 4
Gereja harus peka dengan situasi
yang ada saat ini; karena Gereja ditetapkan menjadi GARAM dan TERANG Dunia
(Matius 5:13-15)
Kata-kata bijak: JANGAN BERTANYA;
APA YANG DIBERIKAN NEGARA KEPADAMU, TAPI TANYAKAN PADA DIRIMU; APA YANG AKAN
KAU BERIKAN UNTUK NEGERI INI.
mengapa…….???
Negeri ini lagi mengalami krisis
kepercayaan hampir disemua sektor, termasuk kehidupan keagamaan/religius yang
diusik dan diatur oleh sistem, ketidak berpihakan hukum bahkan hukum yang bisa
dibeli atau menjadi milik orang yang memiliki banyak uang.
Negeri ini kini dihiasi oleh KEKERASAN.
Terutama kekerasan seksual terhadap PEREMPUAN dan ANAK. Kita disodorkan dengan berita-berita yang cukup memprihatinkan dimana pemerkosaan disertai dengan pembunuhan terhadap anak perempuan di negeri yang berKETUHANAN YANG MAHA ESA
BAGAIMANA dengan GEREJA….???
Ketika Rasul Paulus menulis surat
ini kepada Timotius anak rohaninya, Pemerintahan Romawi berada ditangan Kaisar
Nero, seorang Kaisar yang terkenal dengan kebengisannya.
Jemaat diminta berdoa (ayat 1-2)
a. Untuk raja-raja dan para pembesar
b. Demi ketenangan dan ketentraman
c. Dalam segala kesalehan dan
kehormatan
Pertanyaan mendasar untuk kita;
SUDAHKAH PARAH SITUASI NEGERI INI….???
Matius 9:36
Melihat orang banyak itu tergeraklah
hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan
terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Situasi negeri saat ini; anak
negeri lelah melihat sistim pemerintah yang tidak memperhatikan hak-hak
masyarakat sesuai dengan amanat UUD 1945; anak bangsa terlantar dan hidup di
tenda-tenda karena tanah mereka telah bera;ih fungsi menjadi lahan perkebunan
dan gedung-gedung pencakar langit karena sistem permodalan yang tidak berpihak
kepada masyarakat kecil; akhirnya anak bangsa mulai menciptakan riak-riak kecil
yang perlahan tapi pasti menjadi sebuah gelombang besar pergerakan masyarakat;
reformasi tahap ke dua? (acara MetroTv 13.01.2013 – Anak Negeri dengan judul
Negara Outopilot)
Banyak ANAK dan PEREMPUAN hidup dalam ketidaknyaman karena banyaknya kekerasan seksual terjadi, bahkan para penjahat kelamin ini dalam putusan hukum tidak menimbulkan dampak jera.
Riak-riak kecil saat ini harus
menjadi sinyal bagi Gereja Tuhan untuk berperan menghadirkan kedamaian dan
kesejahteraan di tengah-tengah kelelahan dan keterlantaran anak bangsa, karena
untuk itulah Gereja dihadirkan di Bumi Pertiwi ini.
PERAN GEREJA adalah:
BERDOA dan BERDOA dan BERDOA
1. Menyadari bahwa hanya adalah
kesia-siaan para pengawal menjaga kedamaian, karena bangsa ini terluka adalah
bagian dari kontribusi para penjaga kedamaian, maka kita Perlu karya besar
YESUS, sebab jika bukan TUHAN maka sia-siase muanya (Mazmur 127:1)
2. Mensyukuri kelahiran kita di Bumi
Pertiwi sebagai anak bangsa yang hadir sebagai DUTA KRISTUS yang terpanggil
untuk menghadirkan kedamaian KASIH YESUS untuk bangsa ini, maka doa kita untuk
kesejahteraan bangsa Indonesia (Yeremia 29:7) sehingga kesejahteraan itu ada di
lingkungan kita (Mazmur 122:7-8)
3. Telah hilangnya sentuhan kasih
dan perhatian PIMPINAN sebagai bapak Bangsa terhadap anak bangsa, dan karena
ulah bapak bangsa, banyak hati anak bangsa yang terluka, namun sebagai Gereja
yang menyadari dengan PASTI bahwa HATI BAPA DI SORGA tertuju untuk bangsa ini,
oleh sebab itu kita berdoa agar TUHAN mengembalikan hati para pemimpin kepada
rakyatnya, agar bangsa ini tidak terlantar seperti domba tanpa gembala
(Maleakhi 4:6)
Menarik bahwa mendoakan PEMERINTAH
dan BANGSA ini merupakan kehendak ALLAH dan yang BERKENAN di HATI ALLAH.
(Ayat 3 dari 1 Timotius 2; itulah yang baik dan berkenan kepada ALLAH) dengan
tujuan semua diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (Ayat 4
dari 1 Timotius 2.
PENUTUP
Hari-hari ini ada banyak orang
mencela, mengejek bahkan mensomasi (menyatakan tidak percaya) kepada Pemerintah
termasuk Tokoh – tokoh Lintas Agama, yang memang lahir dari ketidaksempurnaan
Pemerintahan di Negeri ini, namun sebagai Gereja (Anak TUHAN) kita diminta
mendoakan semua orang termasuk Pemerintah kita; bukan sekedar agar ada
keajaiban keberpihakan Pemerintah kepada Gereja, melainkan mereka mengenal
kebenaran dan diselamatkan, inilah yang menyenangkan hati TUHAN.
Dampak dari DOA PEMULIHAN bagi
NEGERI adalah jiwa-jiwa baru yang datang mencari kebenaran.
SUDAHKAH KITA BERDOA SEJAM SAJA
UNTUK NEGERI INI?
Langganan:
Postingan (Atom)
RESONANSI: suara dari tanah terluka
Theys Hiyo Eluay “Orang Papua ingin dihargai sebagai manusia yang bermartabat di tanahnya sendiri.” RESONANSI: Suara dari TANA...
-
Sungai Lobwaer di masa lalu berada di Wilayah Kerajaan LOBWAER namun kini berada di wilayah pemerintahan Desa Ad Ohoivit Mel ohoiru, Keca...
-
Theys Hiyo Eluay “Orang Papua ingin dihargai sebagai manusia yang bermartabat di tanahnya sendiri.” RESONANSI: Suara dari TANA...
-
Menjadi Manusia BARU Efesua 4 : 17 - 32 Oleh : Ps. Sefnat JD. Lobwaer. Kehidupan yang diberikan oleh TUHAN YESUS sebagai anugerah bagi manus...











